Postingan

SECERAH HARAPAN KETHEK OGLENG ASLI PACITAN

Gambar

Kehidupan Terkadang Harus Merasakan Redupnya Cahaya Bulan

Gambar
Warna sinar bulan, terutama di sekitar bulan purnama, tampak lebih kebiru-biruan dilihat mata manusia dibandingkan dengan sumber cahaya buatan lainnya. C ahaya bulan tidak benar-benar berwarna biru, dan meski sinar bulan sering disebut "keperakan", tetapi sebenarnya tidak memiliki kualitas keperakan yang lekat.   Bulan adalah 0,136, artinya hanya 13,6% cahaya matahari yang menimpa bulan dipantulkan kembali dari Bulan. Cahaya bulan umumnya menghambat pengamatan astronomi, sehingga para astronom biasanya menghindari mengamati sesi di sekitar Bulan Purnama. Cahaya Bulan memerlukan waktu sekitar 1,26 detik untuk mencapai permukaan bumi.  Saat gerhana bulan cahaya redup menjadi perlambang bahwa kehidupan itu ada masanya.  Kita tidak mungkin akan berada di posisi puncak.  Suatu saat kita akan bergeser itupun jika kita bisa antisipasi dan persiapkan geserannya tidak terasa. Proses alamiah alam sebuah proses kehidupan akan menjadi modal dasar dalam...

WARNA-WARNI CAHAYA LANGIT

Gambar

KOLABORASI MENGABDI UNTUK SENI

Gambar
Satu tahun lalu tak terbayangkan akan berjumpa dengan pemerhati Kethek Ogleng.  Sutiman seorang pencipta tari dan Sukisno sebagai penggiat seni. Kerja keras dan dedikasi mendorong kami yang sebelumnya hanya mendengar dan melihat tergerak untuk menyumbangkan sedikit pemikiran untuk perkembangan tari Kethek Ogleng. Buku yang kami pegang merupakan karya bapak Sukisno yang kami edit bersama tim. Tim kami beranggotakan Bakti Sutopo dengan pengalaman bidang budaya sering diskusi dengan kolega dosen UGM. Tunggu sebentar lagi buku karya Agoes Hendriyanto akan segera terbit.  Selain itu artikel ilmiah akan segera terbit di International Journal Education dengan judul" BUILDING ECOLOGICAL INTELLEGENCY THROUGH INDONESIA LANGUAGE LEARNING BASED ON KETHEK OGLENG DANCE".  Hak Kekayaan Intelektual yang berkaitan dengan gerakan dasar akan segera dirilis.  Sukses selalu selalu berkarya bagi Negeri.

KOLABORASI KETHEK OGLENG ACARA FESTIVAL BUDAYA PONOROGO

Gambar

DIBALIK PANGGUNG KETHEK OGLENG

Gambar
Sebelum tampil dan mengenakan seragam tari kethek ogleng yang memerlukan kreatifitas biasa disebut dandan sebelum tampil. Agar penampilan memukau segogyanya pemain dibekali dengan ilmu rias. Namun keterbatasan dari Sanggar Condro Wanoro untuk riasan dan peralatan make up belum dikerjakan dengan maksimal. Seharusnya untuk riasan wajah ogleng harus di make up dengan menggunakan masker hitam sehingga penampilan lebih maksimal dengan karakter kera tampak jelas dari tampilan gerak dan rias penari.  Kostum ogleng di sanggar Condro Wanoro masih kurang jika digunakan untuk tarian masal. Kostum penari wanita masih kurang dan memerlukan pengadaan kostum.     Untuk kostum wanita berhijab belum punya dan masih mencari sponsor. Jika ada pakaian eanita hijab insya Allah Kethek Ogleng akan semakin disukai oleh semua elemen masyarakat. Selamat berjuang pendiri, penari, dan pemerhati tari Kethek Ogleng untuk bersama-sama berjuang membumikan Kethek Ogleng baik lokal, regional, nasi...

KARAKTER SISWA DALAM PEMENTASAN KETHEK OGLENG

Gambar
Karakter siswa Sanggar Condro Wanoro terlihat jelas saat pementasan tari kethek Ogleng.  Keberanian, percaya diri, rendah hati, menghormati, kerjasama terlihat saat mereka melakukan atraksi dengan menampilkan enam gerakan asli Tari Kethek Ogleng.  Enam gerakan tari yang Hak Kekayaan Intelektualnya sedang proses di Kementerian Hukum dan Ham Insya allah tahun 2018 telah selesai.  HKI enam gerakan paten tari Kethek Ogleng ciptaan bapak Sutiman atau Sukiman menjadi bukti bahwa Kethek Ogleng merupakan tari asil dari Tokawi Nawangan Pacitan.  Kethek Ogleng yang merupakan kesenian asli Pacitan mari kita kembangkan dan lestarikan karena di dalamnya mengandung nilai-nilai luhur bangsa yang dapat menangkal budaya global.  Wujud dari fisik dari Kethek Ogleng diibaratkan sebagai kera namun tersimpan nilai filosofis dalam setiap gerak tarinya.  Insya Allah untuk buku lanjutan Kethek Ogleng akan segera terbit yang ditulis oleh Agoes, Bakti, dan Arif.  Kethek Ogle...